Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat Hari Ayah!

Sumber “Ting!” Muncul notif dari smartphoneku. Ada pemberitahuan dari Twitter. Teman ngeblogku ngajak bikin fiksi tentang Hari Ayah. Dahiku langsung mengernyit. Aku nggak pernah benar-benar mengerti kenapa ada orang yang merayakan Hari Ayah. Bagiku peran ayah tuh nggak penting-penting amat. Cuma numpang nyodok doang, trus ibulah yang harus mengandung selama 9 bulan dan bertaruh nyawa saat melahirkan. Apa peduli ayah soal sakitnya persalinan.

Hobi yang Dibayar Tidak Semenyenangkan Itu

Dulu aku pikir pekerjaan yang paling membahagiakan di dunia itu adalah hobi yang dibayar. Karena, kita dibayar untuk melakukan sesuatu yang kita sukai. Pasti menyenangkan banget. Para motivator dan orang sukses pun mengamini hal ini. Sumber foto Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, aku sadar kalau kalimat motivasi itu perlu sedikit diubah. Pekerjaan yang paling membahagiakan itu bukanlah hobi yang dibayar, tapi hobi yang dibayar dengan pantas. Melihat diriku yang sekarang ini, aku nggak menyangka kalau hobiku menulis sejak SMA akan menuntunku bekerja di salah satu media digital. Dari profesi ini aku bisa menafkahi kehidupanku. Hobi yang dibayar. Tapi, lama kelamaan aku sadar, kalau apa yang kuberikan tidak selalu sebanding dengan apa yang diberikan oleh perusahaan kepadaku. Aku baru menyadari kalau pekerja itu mempunyai beberapa hak yang harus disuarakan dengan lantang. Mulai dari jam kerja, uang lembur, waktu cuti, BPJS, dan masih banyak lagi. Tidak melulu han...

Yogyakarta Yang Benar-Benar Istimewa

Pulang ke kotamu Ada setangkup haru dalam rindu Masih seperti dulu Tiap sudut menyapaku bersahabat, Penuh selaksa makna Terhanyut aku akan nostalgia Saat kita sering luangkan waktu Nikmati bersama suasana Jogja. Lantunan lagu dari Kla Project ini terus-menerus menabuh gendang telingaku dalam perjalanan dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Di dalam kereta tidak terlalu padat, mungkin karena belum waktu liburan. Tapi, aku tetap gak bisa tidur dengan nyenyak, karena posisi tidur di dalam kereta itu serba salah. Tidur sambil duduk, pegel. Tidur sambil rebahan, kaki bakal kesemutan karena ditekuk. Alhasil, hanya bisa tidur-tidur ayam. Perjalanan ini sendiri menempuh waktu 8 jam, jadi mending terus terjaga sambil mendengar musik. Sumber Terkenal sebagai kota yang masih lekat dengan tradisi, Yogya selalu ramai didatangi oleh turis, baik turis mancanegara maupun turis domestik seperti aku. Hal menarik lainnya adalah, harga mak...

Perjalanan Terakhir di Jakarta: Indahnya Kepulauan Seribu

Kalau membaca cerita-ceritaku sebelumnya, kamu mungkin berpikir kalau Jakarta itu adalah kota yang mengerikan, penuh polusi dan juga kemacetan tiada banding. Ya, emang, sih. Tapi, gak perlu bersedih apalagi sampai menyalahkan Jokowi, karena di Jakarta kamu ternyata bisa menikmati pantai lembut dengan lautan yang biru jernih, loh. Ini bukan hoax.

Perjalanan Ketiga: Indahnya Pertunjukan di Planetarium

Setelah beberapa hari di Jakarta, aku mulai kehabisan tujuan perjalanan untuk dikunjungi. Ada sih beberapa tujuan yang menarik seperti Seaworld atau Dufan, tapi harga tiket masuknya langsung membuat dompet melambaikan tangan ke kamera. Untunglah, Imas menyarankan satu tempat lainnya yang bisa kukunjungi, yaitu Planetarium. Gak cuma ngasih saran doang, dia bahkan dengan senang hati menemaniku untuk jalan-jalan ke Planetarium. Sungguh penganut falsafah hidup “talk less do more”.

Perjalanan Kedua: Kota Tua, Katedral, dan Istiqlal

Sebagai salah satu pusat pemerintahan di jaman Belanda, Jakarta juga mempunyai berbagai bangunan peninggalan Belanda. Salah satunya berada di daerah Kota Tua. Di tempat ini, kamu bisa mengulik gimana sih wajah Jakarta tempoe doeloe. Bagaimana perkembangannya dari sebuah kampung besar menjadi kota metropolitan seperti sekarang ini.

Perjalanan Pertama di Jakarta: Menyusuri Ragunan

Bagi orang-orang yang tinggal di Jabodetabek, pagi itu dimulai dari jam 4 pagi sampai jam 6. Kalau udah di atas jam itu, artinya udah siang. Aku tau hal ini ketika dianter oleh seorang driver ojek online. “Biasanya berangkat jam berapa, Mas?” “Jam 9 pagi, Pak.” “Wah, itu sih udah siang namanya. Bukan pagi lagi.” Bagiku yang terbiasa mulai beraktivitas jam 8 pagi ketika di Medan, fakta ini membuatku sedikit kaget. Mungkin, memang begitulah kehidupan di kota-kota besar. Memulai kegiatan pagi-pagi sekali, dan berakhir saat sudah malam sekali.